Wednesday, 15 February 2017

Diary Terakhirku

Terkadang, saat ada kecewa, luka, dan harapan, terbesit ingin mencari solusi dengan berkisah pada orang terdekat kita. Namun, jika masalahnya justru dengan orang terdekat, misalnya suami, tidak serta merta curhat pada orang seperti teman atau orang tua, menjadi solusi atas permasalahan kita.


Dulu, saat masih single, saat tidak ada orang yang mampu memahami saya, tidak guru, teman, dan orang tua… saya menulis semua permasalahan dalam buku diary. Sampai ada 11 buku yang tertulis. Kalau digubah bisa jadi buku kisah inspiratif seperti buku tulisan OSD, hehehe...

Aku Mau Shalat, Bunda...

Untuk mengefektifkan waktu, saya biasanya selalu mandi bareng dengan Riyadh. Berhubung usianya baru 18 bulan, jadi no problem lah...Setelah mandi biasanya saya langsung mengajak Riyadh untuk shalat, dan membaca surat pendek yang sudah diprogramkan sebanyak 3X.


Pagi itu, beberapa menit setelah sarapan, kami mandi pagi. Beres mandi, lalu berpakaian. Setelah pakai baju, saya bilang; “Nah, udah ganteng nih, kita main yuk... Bunda lagi haid, jadi ga shalat. Yuk kita main…”.

Belajar dari Konflik

Aku Mau Es Krim

Siang ini saya menemani Riyadh bermain di luar bersama anak-anak yang seusia dan yang lebih besar darinya. Ada yang sedang asyik main tanah, mobil-mobilan dan lainnya.


Fokus bermain seketika terhenti saat pedagang es krim lewat ke hadapan mereka. Kebanyakan anak-anak jajan saat itu. Riyadh yang masih selesma dan badannya hangat pasca imunisasi, saya pantang makan es seperti teman-temannya, karena bisa memperberat sakitnya.

My Family Forum

Bye-Bye Feminism

Seperti biasa, setiap pagi saya selalu meminta suami untuk menemani Riyadh selama 30 menit sampai 1 jam saat pekerjaan rumah saya belum selesai.


“Bunda udah beres belum?”


“Belum yah…”


“Kok lama banget sih… Riyadh nangis terus niih…”

Celanaku, Pendapatku


Kamu, dan Bagaimana Aku Bicara Padamu

Pagi-pagi sebelum adzan subuh, saya sudah bangun. Siap-siap mengerjakan seabreg tugas IRT mumpung Riyadh masih tidur. Belanja sarapan, masak, cuci piring, beresin dapur, beres. Pas mau pegang cucian… si ganteng nangis dan bangun.


Jam 6 pagi, setelah sarapan dan mandiin anak, saya teringat dengan setumpuk cucian yang masih belum tergarap. Maklum nyucinya masih manual ga pakai mesin karena daya listriknya belum support.

2 Lelakiku

Monday, 2 January 2017

Aliran Rasa Matrikulasi Ibu Profesional batch #2


Setelah menikah dan punya anak, biasanya perempuan dihadapkan pada masa depan yang tidak menentu, apalagi bagi lulusan sarjana. Galau antara memilih bekerja atau keluarga? Memilih prestise atau taat? Mimpi saat masih single pun seolah lenyap seketika. Tidak tau arah. Kalap. Tersesat.
Namun, Alhamdulillah... dengan program perkuliahan Matrikulasi Ibu Profesional batch #2 ini, saya menemukan jawaban. Mimpi ada di depan, dan arah jalan telah terbentang. Kini bersiap menempuh perjalanan dengan kebahagiaan.
-Alirkan Rasa-
Ika Mustaqiroh
IIP Cirebon