Hidup
di tengah masyarakat yang berbeda budaya, bahasa dan adat itu ternyata tidak
mudah. Itu kesimpulanku saat tersadar kalau aku sudah 1 minggu berinteraksi
dengan warga di desa Kalensari Kec. Widasari Kab. Indramayu. Sekedar
berinteraksi saja sudah dirasa susah, bagaimana menciptakan perubahan di masyarakat?
Tuesday, 25 June 2013
Wednesday, 12 June 2013
Evaluasi Ujian Nasional 2013
Ujian Nasional 2013
sudah digelar. Begitupun pengumumannya sudah dilaksanakan. Awalnya banyak yang
menganggap penyelengaraan UN 2013 akan menjadi Ujian Nasional terbaik di negeri
ini. Hal ini karena adanya perubahan
sistem yang
diterapkan, mulai dari jenis soal dan akumulasi penilaian. Dimana jenis soal
dalam satu ruangan yang terdiri dari 20 siswa digunakan 20 jenis soal, artinya tiap
siswa mendapatkan soal yang berbeda. Dengan harapan bisa menghilangkan kecurangan
yang dilakukan para siswa atau pihak sekolah. Berbeda dengan tahun kemarin, Cuma
ada 5 jenis soal yang berbeda dalam satu ruang ujian. Nilai kelulusan pun tidak
hanya ditentukan pada saat UN saja, tapi akumulasi dari nilai semester 3, 4, 5 dan
nilai UN. Sekilas sudah terlihat baik, tapi nyatanya tidak
demikian.
Monday, 15 April 2013
1000 SKS Mata Kuliah Jerawat
Oleh:
Ika Mustaqiroh
Sudah
setengah jam aku terpaku menatap warna-warni bunga di centre park kampusku. Aneka bunga segar, semerbak wangi dengan
mahkota bermekaran indah nan cerah. Semua orang suka cita melihat dan memandanginya.
Rasanya, aku dan bunga tak ada beda. Ada satu kesamaan antara aku dengan
makhluk hidup yang beruntung itu. Mereka bunga, aku juga bunga. Namaku bunga. Bedanya,
prestige mereka di mata manusia sangat tinggi, sedang aku tidak.
Saturday, 23 February 2013
STOP Kejahatan Seksual Anak Dengan Sistem Islam!!!
Kasus
kejahatan seksual kini terus meningkat dan brutal karena pelakunya merupakan orang-orang
terdekat korban. Seperti yang menimpa gadis kecil berusia 8 tahun,
warga Kec.Harjamukti Kota Cirebon, yang dicabuli oleh calonsuami ibunya, Gareng
(nama samaran, 40 tahun). (Kabar Cirebon,
29/1/2013).
Kalau kita cermati, ada banyak faktor pemicu kejahatan seksual terhadap
anak. Pertama, media pornografi dan pornoaksi baik dalam internet, film, dan majalah yang begitu mudah diakses.
Kedua, seolahmenjaditren mode, banyak
wanita (dewasa/remaja) mengumbar aurat dan sensualitas di tempat umum dengan pakaian seronok
seperti rok mini, celana pendek, dsb. Kalaupun tidak memicu langsung, sensualitas ini bisa memupuk nafsu seks, layaknya pupuk tanaman.
Ketiga, kondisi rumah tangga yang tidak harmonis yang memperburuk situasi. Sejumlah kasus kejahatan seksual
pada anak diantaranya karena penolakan istri untuk melayani suaminya dengan
alasan lelah bekerja seharian.
Keempat, sanksi hukum yang ada ringan dan tidak memberi efek
jera sehingga kekerasan seksual pada anak-anak danwanitakian sulit dihentikan.
Dalam sistem hukum yang ada selain ancaman hukumannya masih ringan, masih
ditambah pilihan hukuman minimal dan maksimal. Padahal hukum seharusnya menjadi
palang pintu terakhir memberantas kejahatan.
Kelima ,faktor kian pudarnya ketakwaan masyarakat kepada Allah SWT. Padahal
ketakwaan adalah rem yang paling efektif bagi individu untuk tercegah dari
perbuatan keji dan mungkar. Namun system Negara sekuler demokrasi dan liberal yang diadopsi Negara kitaseperti sekarang, ketakwaan dianggap tidak penting bahkan agama disingkirkan dari kehidupan.
Inilah akar masalahnya. Karena itu terus meningkatnya kejahatan seksual pada anak-anak adalah bukti
gagalnya sistem sekuler melindungi anak.
Berbeda dengan demokrasi dan
liberalisme yang meminggirkan ketakwaan, system Islam (yaitu system syari`ah dalam naungan Khilafah) justru menjadikan iman dan takwa sebagai pondasi kehidupan masyarakat.
Takwa-lah yang membuat seorang muslim akan sungguh-sungguh melaksanakan
perintah Allah meskipun berat, dan akan berusaha keras meninggalkan perbuatan
keji dan mungkar meski syahwatnya bergejolak. Masyarakat juga dibentuk dan
dijaga dengan syariat Islam agar menjaga ketakwaan secara menyeluruh. Penguasa
yakni khalifah tidak akan segan-segan memberikan sanksi bagi pelaku, pembuat
dan pengedar pornografi meski dengan dalih seni sekalipun.
Kaum muslimah diwajibkan mengenakan
kerudung dan jilbab manakala keluar dari rumah mereka karena tahu itu adalah
perintah Allah SWT. yang akan membawa mereka ke dalam kebaikan. Isteri yang bekerja seringkali karena dipaksa oleh kemiskinan.
Kemiskinan masih menghantui sekitar 29 juta
warga negeri ini karena sistem sekuler kapitalisme gagal mendistribusikan
kekayaan secara merata dan adil. Kekayaan justru dialirkan kepada kelompok
kecil orang kaya.Maka, secara ekonomi, penerapan Sistem Ekonomi Islam akan
memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok (papan,pangan dan sandang) serta
kebutuhan dasar (pendidikan, kesehatan dan keamanan) bagi seluruh rakyat.
Sehingga para istri tidak perlu
bekerja, mereka harus mengutamakan aktifitas mereka di rumah tangga seperti
melayani suami dengan sebaik-baiknya.Karenaitu adalah kewajiban sedangkan
menolaknya akan mendatangkan laknat dari Allah SWT.Jika dengan semua itu masih
ada orang melakukan kejahatan seksual,maka palang pintu terakhir untuk
melindungi masyarakat adalah menerapkan sanksi pidana sesuai hukum Allah.
Dalam Islam, pelaku
perkosaan akan diganjar hukuman layaknya pezina. Bila belum menikah maka akan
dikenakan seratus kali jilid (QS an-Nur [24]: 2). Sedangkan bila telah menikah
maka akan dirajam hingga mati. Pelaksanaan hukuman itu harus dilakukan
dihadapan khalayak (QS an-Nur [24]: 2). Tentu
saja korban tidak termasuk yang mendapat sanksi karena statusnya sebagai korban
yang teraniaya. Hukuman yang keras ini akan melindungi anak-anak dan kaum
wanita serta memberikan rasa keadilan bagi korban.
Untuk itu marilah kita bersama-sama
perjuangkan Khilafah agar kejahatan seksual terhadap anak saat ini tidak subur terjadi.
(Ika Mustaqiroh)
Thursday, 21 February 2013
Ngangkot Safely
Sebagai angkotlovers (halah!) tentunya saya sangat berterima kasih karena mobilitas saya sebagai mahasiswi dan makhluk pendatang di kota ini jadi terfasilitasi. Ops, sebenarnya dikatakan angkotlovers bisa jadi karena tidak bisa naik motor (eh, kalo saya sih naik motor bisa, cuma… jadi penumpang saja, he). Atau karena tak terbeli sepeda motor, atau tak terfasilitasi orang tua, atau karena alasan tak ingin menjadi penyumbang kemacetan dengan memilih memanfaatkan angkutan umum...
Tapi keberterima kasihan saya mulai terusik saat mendengar kabar lompatnya mahasiswi Ilmu Keperawtan UI Annisa Azward (20) dari angkot yang akhirnya meninggal dunia. Kabar ini membuat siapapun, baik saya maupun para wanita yang menggunakan angkot cetar-cetir khawatir. Kejadian ini bukan hanya sekali atau dua kali. Tahun lalu, seorang ibu dua orang anak yang sehari-harinya berjualan sayur, dan gadis berusia 15 tahun di perkosa dalam angkot 38 jurusan Cibinong – Cileungsi, kira-kira pukul 20.00 WIB selepas membesuk keluarganya di RS. Ngeri….
Tuesday, 2 October 2012
Pakaianku, mukenaku
Oleh:
Ika Mustaqiroh
Azan
duhur berkumandang dari corong masjid kampusku. Memanggil penuh cinta seluruh
civitas akademika untuk bersegera menemui seruan Rabb mereka. Responnya
macam-macam. Ada yang berhamburan mendekati-Nya, ada yang cuek saja, ada juga
karena terpaksa; jam kuliah belum mengizinkan sudah.
Untuk urusan shalat, aku sendiri berusaha
istiqomah tepat waktu, selalu. Kecuali jika ada udzur (halangan) syar`i seperti
sedang kuliah atau dalam perjalanan. Begitu terdengar “Allahu Akbar! Allahu
Akbar!”, aku langsung bergegas, karena selalu tertanam di benakku
akan hadits Rasulullah Saw berikut, “Amal
yang paling utama adalah shalat di awal waktu”. (HR. Tirmidzi dan
Hakim-Kitab Bulugul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqalani). Aku pun tak
ingin termasuk orang-orang yang lalai karena mengakhirkan waktu sembahyang. “Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnya.” (Q.S. Al Maa`uun : 4 – 5)
3 Pertanyaan
Semakin hari, dakwah Khilafah
banyak didukung oleh umat Islam. Terlebih para ulama sebagai simpul umat,
sekaeang siap berada di garda terdepan untuk memperjuangkan penegakkan Syari`ah
dan Khilafah.
Tiba-tiba, ada 3 pertanyaan yang
mendarat di inbox HP saya, bunyinya begini:
Assalamu`alaikum Ika, Aku aku mau nanya, sebenarnya realistis tidak
sih menegakkan Khilafah di tengah
kondisi umat saat ini yang plural? Pendekatan seperti apa yang dilakukan HT
pada manusia-manusi di seantero bumi ini? Apakah itu efektif? Tingkat
efektifitasnya gimana?
Yuk, dari pada berlama-lama kita
langsung tancap ke pembahasan.
Thursday, 27 September 2012
Fajar Berkibar
(puisiku saat terkena meningitis)
bersama langkah waktu
bersama langkah waktu
aku ikuti detaknya,
tak terasa
aku telah berlari
dari angka merah kisah
remuk redamnya payah
tak ada bayang bertahan
beruntung Tuhan masih disimpan
pecah semua malam
bergelimpangan
debu-debu dinding kamarku
bisa bercerita tentangku
coba saja, ajak bicara dia
pasti kau jadi bisu
lalu jangan pernah menoleh ke arahku
dari angka merah kisah yang kubulati,
ku hitung-hitung lompatan ini
masih saja takut,
gugup,
gemetaran.
akan satu pertanyaan :
tak terasa
aku telah berlari
dari angka merah kisah
remuk redamnya payah
tak ada bayang bertahan
beruntung Tuhan masih disimpan
pecah semua malam
bergelimpangan
debu-debu dinding kamarku
bisa bercerita tentangku
coba saja, ajak bicara dia
pasti kau jadi bisu
lalu jangan pernah menoleh ke arahku
dari angka merah kisah yang kubulati,
ku hitung-hitung lompatan ini
masih saja takut,
gugup,
gemetaran.
akan satu pertanyaan :
Sunday, 16 September 2012
Sang Penyair dari Austria....
Tidak pernah terbayang sebelumnya, aku bisa jalan-jalan malam hari di kota Cirebon. Selama empat tahun lebih baru malam ini aku melakukannya. Eva Riskiani adalah partnerku yang mau aku ajak ngebolang malam-malam. Teringat waktu kami semester 1 yang pernah nonton pagelaran drama perdana anak-anak UKM Teater IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Aku pengen banget menyaksikan kepiawaian para pemain yang acting dalam pementasan tersebut. Saat itulah, aku dan Eva pertama kalinya keluar malam di sekitar kampus. Apalagi saat itu sedang musim hujan.
Saturday, 25 August 2012
Expresi Penonton yang Double Kecewa
Malam ini aku menonton film
“Fetih 1453”. Aku menonton dengan cara yang berbeda. Bukan nonton di bioskop,
bukan nonton depan computer/ laptop, bukan pula di depan layar TV (ini mah ga
bisa kale…). Tapi aku nonton sambil nobar-an alias layar tancep-an di depan
rumahku bersama keluarga dan para tetangga. kebetulan a Sesep sudah meminjam in
focus untuk kegiatan syarikah besok, entah apa kegiatannya? Denger-denger sih
acara Jalasah Muna Ikhwan, (Bentuk acaranya, aku gak tau ;P). Dan kebetulan ada
netbook punyaku. Jadinya kita serumah bisa nobar-an deh.
Subscribe to:
Posts (Atom)
